Namanya
Shanindyan
Aelke. Murid SMA Global Islam yang baru duduk di kelas 2 IPA3. Seorang model
yang tingginya mencapai 170 cm, kulitnya putih bersih, dan dia mempunyai senyum
yang indah dengan lesung pipi yang menghias wajahnya.
Si super star
sekolah yang mempunyai segudang prestasi. Menurut
teman-temannya wajahnya 11:12 dengan CR!! Sayap kiri Real Madrid. Dia adalah
Praduto Aditya, teman satu kelas Shanin.
“Shanin.” panggil Duto dengan sedikit berteriak dari
kejauhan. Dan saat itu Shanin sedang latihan modeling.
Berjalan menghampiri Duto. “Iya ada apa?”
“Deadline tugas kimia dua hari lagi, sedangkan kita belum
mengerjakan.”
“Oh ya aku lupa. Setelah aku latihan ini kita kerjakan tugasnya di rumahku.”
Setelah beberapa lama, akhirnya Shanin mengakhiri latihan
modelingny. Dari lantai tiga gedung serba guna, telihat dua anak menuruni
tangga menuju parkiran mobil yang terletak di halaman belakang sekolah. Mereka
terlihat terburu-buru.
* * *
Hari ini Shanin ada janji dengan Duto di sebuah restoran
daerah Condet. Mereka akan mengerjakan tugas kelompok dari pak Wahid guru
biologi. Akhir-akhir ini mereka sering jalan berdua di mall, restoran, atau
tempat terbuka lainnya. Bukan untuk bersenang-senang, melainkan mengerjakan
tugas-tugas kelompok yang segunung dari bapak ibu guru. Mereka memilih
tempat-tempat itu agar tidak mudah jenuh.
“Jadi, apa kesimpulan dari makalah kita ini?” tanya
Shanin kepada Duto yang sedang menyeruput orange
jusnya. Tanpa berkata-kata Duto mengambil laptop Shanin yang duduk di
sebelahnya. Dia dengan cekatan mengetik kesimpulan dari makalah tersebut. Duto
memang anak yang cerdas, dari kelas 10 dia selalu menduduki peringkat satu.
Begitu juga dengan Shanin namun, Shanin masih kalah saing dengan Duto.
Ketika Shanin akan mengambil tissue dihadapannya, tanpa
disadari Duto juga ingin mengambil tissue. Tangan mereka saling bertemu di atas
kotak tissue dan mereka saling bertatapan cukup lama. Mereka sadar dan segera
menarik tangan masing-masing. Raut wajah Shanin berubah menjadi menghangat dia
segera menundukkan kepalanya menahan rasa malu.
Malam harinya,
Shanin masih memikirkan kejadian tadi sore. Jantungnya berdetak kencang, dan
pasti raut wajahnya sudah memerah, karena malu. Dia membuka buku hariannya dan
mulai menulis sesuatu.
Keesokan
paginya, Duto bergegas menuju perpustakaan untuk mencari bahan untuk tugak
kelompok bahasa Indonesia. Kali ini Duto pergi ke perpustakaan seorang diri,
karena Shanin sedang latihan modeling. Shanin harus lebih intensif latihan,
mengingat tanggal lomba sudah dekat.
Duto mulai
mencari bahan tugas itu. Dia berjalan menelusuri rak buku dan memilih buku yang
dia butuhkan. Matanya tertuju pada sebuah buku, kemudian dia meraih buku itu.
Namun, ada tangan lain yang juga mengambil buku itu dari balik rak buku. Duto
menundukkan kepala dan melihat tangan orang yang berada di balik rak buku.
Ternyata dia adalah Shanin, Duto terkejut dan dia menjadi salah tingkah.
“Bukannya kamu
masih ada latihan?” Duto mencoba menutupi tingkahnya yang aneh.
“Udah selesai
kok. Kam ngapain disini?”
“Aku mau cari
buku bahan KTI tugas kita.”
“Kok gak
bilang?”
“Karna aku tau
kamu ada latihan. Kamu ngapain?”
“Aku juga mau
cari buku bahan KTI.”
Bunyi nyaring
bel istirahat terdengar, beberapa murid kelas 2IPA3 pergi ke kantin dan
sebagian menetap di kelas.
“Shan…” panggil
Gadis teman sekelas Shanin, dari pintu kelas.
Shanin menoleh
sumber suara tersebut. “Iya? Ada apa Gadis?”
“Ada yang cari
kamu.”
“Siapa?” tanya
Shanin.
“Kak Gemy,
Shan.”
“Iya suruh nunggu
sebentar.” kata Shanin kepada Gadis.
“Aku nyamperin
kak Gemy dulu ya.” Shanin berkata kepada Duto.
“Iya.” jawab
Duto yang masih focus dengan tugas KTI.
Perasaan
cemburu tiba-tiba terbesit didalam benak Duto. Rasa ingin marah mulai mencuat,
dia berusaha agar amarahnya tidak meledak. Dan dia sadar “Dirinya bukan
siapa-siapa Shanin.”
Duto kembali
mengetik tugas KTI. Tiba-tiba dating 4 sahabat penggosip. Mereka duduk di
belakang bangku yang ditempati Duto. Mereka
nggosipin siapa sih? Tanya Duto dalam hati. Dia mencoba menjadi pendengar
yang baik. Setelah menerka-nerka, mereka gosipin cowok baru Shanin. Cowok baru
Shanin? Apa benar Shanin sudah taken?
Namun dengan siapa? Duto kembali mendengarkan percakapan mereka. Setelah cukup
lama, Duto mengerti cowok yang mereka maksud. KAK GEMY! Apa Shanin mempunyai
hubungan special dengan kak Gemy? Kali ini Duto benar-benar tidak dapat menahan
rasa cemburunya. Cepat-cepat dia menutup laptopnya dan pergi meninggalkan
kelas.
*
* *
Satu minggu
setelah kejadian itu, mereka jadi jarang kerja kelompok
berdua. Setiap kali Shanin bicara dengannya, Duto selalu menghindar. Shanin
bingung dengan berubahan sikap Duto.
Saat jam
istirahat Shanin pergi ke kantin bersama sahabatnya, namanya Keynaya. Setelah
memesan makanan mereka memilih tempat duduk diujung. Saat pesanan mereka
datang, Shanin melihat Clara anak kelas 2IPA2 berjalan menuju tempat kosong
disebelah Shanin.
“Shan, kamu tau
dia siapa?” tanya Keynaya.
“Clara anak
kelas 2IPA2. Kenapa?” jawab Shanin yang sedikit bingung.
“Masa kamu gak
tau, dia kan pacarnya Duto.”
Shanin tersedak
karena mendengar kabar yang mengejutkan itu.
“Emang Duto gak
cerita kalau dia udah jadian sama Clara?” lanjut Keynaya.
Shanin hanya
menggelengkan kepala. Dia masih shock mendengar kabar ini. Rasa cemburu,
kecewa, menyesal menjadi satu. Rasanya dia ingin menangis keras namun dia masih
bisa mengendalikan dirinya.
Hingga saat ini tak ada seorangpun yang
mengetahui tentang perasaannya terhadap Duto. Dia hanya menuliskannya pada
sebuah buku harian yang dihias. Menyerupai sebuah scrapbook. Disana penuh
dengan curhatan tentang dirinya. Dalam
scrapbook Shanin juga terdapat foto-foto Duto.
Hari ini tepat
dua bulan Duto dan Clara jadian namun, rasa sayang Shanin kepada Duto tidak
berkurang sedikitpun. Dia sangat setia pada komitmen hatinya. Namun terdengar
kabar burung hubungan Duto dengan Clara sedang diujung tanduk. Menurut pemburu
gossip peyebab retaknya hubungan mereka karena orang ketiga. Shanin tidak
mempercayai kebenaran hal itu karena ini hanya sebuah gossip belaka.
“Shan, jangan
lupa nanti pulang sekolah ke rumahku. Kita harus menyelesaikan tugas bahasa
Inggris hari ini juga.” bisik Duto membuyarkan lamunan Shanin.
Terdengar suara
bel sekolah yang menandakan pelajaran hari ini telah usai. Shanin segera pergi
ke rumah Duto. Saat dia hendak menelepon sebuah taxi, Duto lewat dihadapannya
dan menawarkan Shanin tumpangan.
Setelah
memakirkan mobilnya di garasi, Duto memasuki rumahnya dan mempersilahkan Shanin
masuk. Mereka mengerjakan tugas tersebut di ruang belajar
yang disediakan orang tua Duto untuk mengerjakan tugas kelompok.
Shanin pamitan
untuk pulang karena tugas mereka telah terselesaikan. Dia harus naik taxi karna
mobilnya masuk bengkel. Duto mencoba menawarkan diri untuk mengantarkannya
namun Shanin menolak. Karena tergesa-gesa buku harian Shanin tertinggal di
rumah Duto. Dia lupa membereskan buku hariannya dan akhirnya terbawa dengan
tumpukan buku sekolahnya.
Tanpa sengaja Duto membuka buku harian
Shanin. Dia tidak tau buku apa yang dipegangnya sekarang. Duto membuka halaman
pertama yg berisikan biodata Shanin. Duto terkejut saat mendapati foto dirinya
di buku itu. Yang lebih membuat Duto shock ketika dia membaca ungkapan perasaan
Shanin.
Ternyata Shanin
mempunyai rasa yang sama seperti dirinya. Duto sangat senang dengan kabar ini.
Dia segera membereskan barang-barangnya dan menuju kamar. Duto mempunyai
rencana yang istimewa untuk Shanin esok.
*
* *
Hari ini dia sengaja
datang lebih pagi dari biasanya. Dia akan memberikan kejutan untuk Shanin.
Namun, hingga bel masuk berbunyi Shanin tidak hadir. Apa hari ini dia tidak
masuk? Kenapa? Duto mencoba untuk menghubungi phonselnya
tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya dia bertanya kepada Keynaya.
Menurut
penjelasan Keynaya, Shanin tidak masuk karena dia memenuhi panggilan beasiswa
luar negerinya. Dia akan terbang ke Amerika hari ini jam 15.00 WIB. Dan dia
sudah ada di bandara satu jam sebelum take off. Masih ada waktu untuk menemui
Shanin.
Saat bel pulang
sekolah berbunyi Duto langsung berlari ke parkiran mobil. Dia melajukan
mobilnya menuju bandara dengan kecepatan tinggi. Perasaannya begitu senang.
*
* *
Sesampainya di
bandara, Duto berlari menuju ruang tunggu keberangkatan. Matanya mencari
sesosok wanita yang begitu dia sayangi. Dan akhirnya, Duto menemukan Shanin
yang sedang asyik mendengarkan musik dari Ipodnya dengan hadphone terpasang
dikepalanya. Dengan perasaan senang dan berdebar dia menghampiri Shanin.
“Shanin.” Duto
menepuk pelan pundak Shanin, dia terkejut atas kedatangan Duto.
Shanin melepaskan
hadphonenya. “Eh Duto. Ada apa kesini?”
“Tidak ada aku
hanya ingin menemuimu. Kangen!” kata Duto.
“Gombal!” Mereka
terdiam sejenak.
“Shan, apa kamu
mencintaiku?” kata Duto lirih.
Muka Shanin
berubah menjadi merah karena malu. “Engg….nggak kok.”
“Jujur Shan! Aku
tau kamu mencintaiku.”
“Kamu tau dari
mana?”
Duto
mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. “Buku ini.”
Shanin begitu
terkejut. “Kok bisa ada di kamu?”
“Kemarin
tertinggal di rumahku. Tanpa sengaja aku membacanya. Jadi benar mengenai hal
itu?”
Shanin
menggerutu dalam hati karena begitu ceroboh dirinya dan kini Duto mengetahui
perasaannya. Shanin terdiam beberapa saat, tiba-tiba Duto mengangkat kedua
tangan Shanin dan menatapnya lekat-lekat.
“Shan, apa kamu
mau jadi orang terakhir yang aku cintai dalam hidupku?” dia sangat terkejut
dengan perkataan Duto dan menundukkan kepalanya.
“Shan, perlu
kamu tau aku suka sama kamu sejak kelas 10. Aku selalu setia dengan perasaan
ini namun, aku sempat putus asa saat kamu jadian sama kak Gemy. Hal itu yang
membuat aku menghindar dari kamu dan memilih Clara. Tapi hubunganku tidak
berlangsung lama karena hatiku tidak bias mengpungkiri rasa sayangku sama kamu”
Shanin sangat
malu dan tertawa kecil. “Kak Gemy itu sahabat kakakku dari kecil jadi kami
akrab banget sampai kayak orang pacaran.”
Duto senang
mendengar kabar itu. “Kamu mau jadi cinta terakhirku?” tanya Duto sekali lagi.
Shanin
menganggukkan kepalanya bertanda dia bersedia menjadi cinta terakhir Duto.
Akhirnya mereka tersenyum bahagia dan saling berpelukan. Akan tetapi Shanin
harus pergi ke Amrik untuk melanjutkan sekolahya. Setelah lulus SMA Duto
berencana untuk kuliah di Amrik bersama Shanin. Walaupun harus menjalani
hubungan jarak jauh, mereka akan tetap saling setia.