Sinar matahari pagi
menelusup celah tirai kamarku, hembusan angin yang sejuk menambah keenggananku
untuk beranjak dari tempat tidur.Namun, aku teringat pada satu kewajibanku
yaitu pergi ke sekolah karena libur semester satu telah usai. Yang artinya aku akan
bertemu teman-teman, dengan segera aku merapikan tempat tidurku, dan pergi ke
kamar mandi penuh semangat.
“Kalau mandi cepat ya
nak, ayahmu berangkat lebih awal hari ini” kata ibu yang sedang sibuk dengan
masakannya.
Aku menganggukkan
kepala “Oke, mom”
*
* *
Sekolah masih cukup
sepi. Hanya ada beberapa siswa kelas lain, dan yang pasti tukang kebun
sekolahku. Tidak ada seorang siswa pun yang tampak di kelas 7e.Artinya, aku
adalah orang pertama yang datang.Hal ini membuatku terasa jenuh karena seorang
diri didalam kelas.Sambil menunggu teman-temanku datang, aku menyelesaikan
membaca novel yang ayah beli kemarin.Ceritanya menarik dan alur maju yang
digunakannya membuat pembaca tidak bingung.
Satu persatu siswa dan
siswi mulai berdatangan.Suasana kelasku yang tadinya sepi berubah menjadi
sangat ramai.Suara canda-tawa, sapa kangen begitu jelas.Mereka saling melepas
rindu karena dua pekan tidak bertemu.
Seusai apel pagi
siswa-siswi memasuki ruang kelas masing-masing untuk mendapat pelajaran awal
semester dua. Karena guru pengajar belum masuk, teman-temanku kembali ramai
dengan perbincangan yang begitu excited!!
“Anak-anak saya minta
perhatiannya sebentar.” bu Aini tiba-tiba datang dengan anak perempuan bermata
coklat bulat, rambutnya terurai lurus sebahu.Dan yang pasti aku belum pernah
melihat dia di sekolah ini.
“Kalian kedatangan
teman baru, dia pindahan dari SMP Surabaya. Silahkan perkenalkan namamu mbak!”
perintah bu Aini.
“Iya bu, terimakasih.
Perkenalkan nama saya Salsa Ayu Bella. Atau Ella. Saya pindahan dari SMP
Surabaya.” begitu Ella memperkenalkan dirinya dengan penuh semangat.
“Kamududuk di sebelah Marina, nanti saya tambah satu
bangku lagi.” kata buAini.
Ella berjalan
mendekatiku.
“Hai…” sapaku ramah.
“Hai juga.” jawabnya
begitu lembut.
Aku mengulurkan tangan
sebagai tanda perkenalan. “Namaku Marina.”
Ella membalas jabatan
tanganku. “Aku Ella. Aku duduk disebelahmu boleh?”
“Silahkan!”
Awalnya kami begitu
canggung.Namun, dengan obrolan yang begitu menyenangkan dan sifatnya yang ramah
membuat kami lebih cepat akrab.
Kami memiliki hobby
yang sama, yaitu gemar membaca dan mengoleksi novel. Genre novel yang sering
kami bacapun sealiran.
Terpancar begitu jelas
dimata Ella, dia begitu menginginkan sesuatu.“Berarti kita bisa saling tukar novel
ya.”
“Tentu saja dong, La.”
jawabku semangat.
* * *
Ella
begituantusiassaatakumengajaknyauntukmelihatkoleksi novel-novelku di rumah.Selamatigamingguini
kami seringbertukar novel. Namun,diasangatinginmelihatkoleksi novel-novelku.Dady Ella yangakan mengantarkan kami nanti. Dia telah mendapat ijin dari
mamanya. Rasa bahagia begitu jelas terpancar di mata Ella.
Bel sekolah telah
berbunyi menandakan pelajaran telah usai.Semua murid berhamburan keluar
kelas.Ella menarik lenganku dengan berlari-lari kecil tergopoh-gopoh.Rupanya
dia benar-benar tidak sabar untuk melihat koleksi novel-novelku.
“Ayo Marina, cepat!”
Akutakmenjawabkarenasangatpanik.Kami
menerobosratusanmurid-muriddisini.
Sesampainya di
gerbangsekolah, Ella mulaimencarimobil yang menjemput kami.Diamenyipitkanmata,
mencari sedan civicnyadariujungkeujungdanakhirnya….
“Nah …itudiamobildady.”
seru Ella.
Aku duduk disebelah
Ella.Sepertinya dia sudah banyak cerita tentang aku ke orang tuanya.Hal ini
terbukti ketika dady Ella menyapaku dengan begitu akrab, padahal kami belum
pernah bertemu.Ia begitu ramah dan supel, membuat aku merasa nyaman untuk
berbincang-bincang tanpa rasa canggung.
Ternyata ibu sudah
menyambut kedatangan kami.Banyak makanan ringan di ruang tamu.Ibu
mempersilahkan masuk, dan mengajak Ella untuk berbincang-bincang.
“La, ayokekamarku.”
Tanpa berkata apa-apa
Ella bangkit dari sofa, dan berjalan mengikutiku.Dia kegirangan saat melihat
beberapa koleksi novelku.Dengan cekatan dia memilih novel.Ella memilih novel
bergenre romantic terbitan teenlit yang berjudul “Frans dan Sang Balerina”.Dia
mulai membaca novel yang dipilhnya.
*
* *
Tidak terasa 5 bulan
kami selalu bersama.Banyak kejadian yang kami lalui.Suka maupun duka. Kami
selalu menuangkan apa yang telah terjadi, dari masalah pelajaran, hobby baru,
tentang indahnya jatuh cinta dan sakitnya dihianati walaupun hanya sekedar
cinta monyet.
“La... “ Panggilku lirih.Tapi Ella tidak menjawabnya
“La...” Panggilku sekali lagi dan dia masih tetap terdiam
Dengan setengah berteriak.“Ellaaaaa!”
Dia terkejut. “I...iya?”
“Akhir-akhirinikamuterlihatmurung dan sering melamun. Ada apa La?” Tanyakudengan nada
penuhkecurigaan.
“Siapabilang?I’m okay!”
Jawabnyaenteng.
“Kamuyakin, La?”
Ella
hanyamenganggukkankepalacuek.Akhir-akhirinisifatnyaberubah, dia terlihat selalu murung, cuek, cepat marah,
dan sering melamun.Tidaksepertibiasanya
yang selalu ceria,danselaluterbuka.Mungkininihanyaperasaankusaja.
* * *
Sudah tiga hari ini dia absen dari sekolah tanpa keterangan. Ella
selalu mengirim surat keterangan jika dia tidak masuk. Dia juga selalu
mengabariku tentang keadaannya. Namun, kali ini tidak ada kabar sedikitpun
darinya. Aku mulai khawatir dengan keadaannya,aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya sepulang sekolah.
Dering bel sekolah mulai terdengar dan
semua murid bersorak gembira. Aku segera membereskan buku pelajaranku dan pergi
meninggalkan sekolah. Orang yang menjemputku atau ojekku telah menunggu di
depan gerbang sekolah. Aku meminta padanya untuk mengantarakanku ke rumah Ella.
Dalam sepanjang perjalanan aku mencoba untuk menghubungi Ella. Namun tak ada
jawaban.
“Ellaaaa...”panggilku setengah berteriak. Aku mencoba memanggilnya
beberapa kali namun, masih sama seperti yang tadi tidak ada jawaban. Ketika aku mulai putus
asa, tiba-tiba terdengar seseorang sedang membuka pintu rumah. Dan aku segera
menoleh.
“Bi, Ellanya ada?” tanyaku sopan.
“Mbak Marina ya? Mbak Ellanya ada
kok.” jawab pembantu Ella.
“Boleh saya bertemu dengannya?”
“Maaf, mbak Ellanya lagi sakit dan katanya gak mau diganggu.”
“Sakit? Sakit apa Bi?” tanyaku khawatir.
“Bibi kurang tau, karena
dua hari ini mbak Ella gak keluar dari kamarnya.”
“Maksudnya
mengurung diri bi?Lalu bagaimana keadaannya sekarang bi?” tanyaku mulai panik.
“Terakhir
bibi ngantar makanannya, mbak Ella
keadaannya mulai membaik.”
Sebenarnya aku ingin
melihat keadaan Ella namun bibi selalu menghalanginya.“Lalu tante sama om
kemana bi? Kok gak kirim surat ke sekolah atau kasih kabar ke aku?”
“Mamanya
mbak Ella sedang di Surabaya katanya ada urusan penting, seminggu ini papa mbak
Elladitugaskan sementara di luar kota.”
Aku
memutuskan untukpulang .Namun ada sesuatu yang masih mengganjal.Ada apa dengan
dia sebenarnya? Apadia sedang mendapat masalah besar? Mengapa diatidak
bercerita kepadaku, sahabat yang selalu dia percaya sebagai tempat curhat dan membagi rasa suka duka?Banyak pertanyaan
yang menghantuiku.
*
* *
Ini adalah hari keenam
Ella tidak masuk tanpa keterangan.Kemarin lusa aku mendatangi rumah Ella namun
rumah itu terlihat sepi.Sepertinya sedang tidak ada orang di rumah.Untuk
kesekian kalinya, aku akan menemuinya esok.
Karena hari ini libur
aku akan pergi ke rumah Ella diantar pak Mat tukang ojekku. Aku membawa sesuatu
untuk Ella. Semoga dia senang dengan apa yang aku bawa.
Suasana rumah Ella
sangat sepi.Mobil civicnya tidak terparkir di halaman rumahnya.Mungkin mama Ella
sedang keluar rumah atau belum pulang dari Surabaya. Ketika akan memencet bel,
pintu rumah Ella terbuka dan ternyata si bibi yang membukanya.
Setelah
berbasa-basi aku segera meminta ijin untuk bertemu dengan Ella.Namun masih saja
bibi tidak mengijinkanku.Aku mencoba untuk merayunya berkali-kali.Beberapa saat
kemudian aku mendengar suara gelas terjatuh, sumber suaranya berasal dari kamar
Ella.Segera aku berlari ke kamar Ella tanpa memperdulikan larangan bibi.
Saat
aku membuka pintu kamarnya. “Ellaaaaaaa…….!!!”
Aku
melihat dia akan memakan beberapa obat-obatan berdosis tinggi setelahgelas yang
akan diraihnya terjatuh.“Apa yang sedang kamu lakukan?”
“Ada
apa kamu kemari?Siapa yang menyuruhmu kemari?Aku tidak membutuhkanmu!” kata
Ella dengan nada meninggi.
Ada
apa aku kemari? Siapa yang menyuruku?Dia tidak membutuhkanku?Apa maksudnya? Aku
ini sahabatnya.Orang kedua yang selalu berada
disampingnya, saat suka maupun duka.
“Tidak
ada yang menyuruhku kemari, aku kemari karena khawatir akan keadaanmu Ella!” seruku
menahan isak tangis.
Benar dugaanku Ella
sedang mempunyai masalah yang sangat besar hingga membuat dirinya seperti
ini.Lihatlah, matanya amat sembab dan berkantung besar, rambutnya berantakan
tidak terawat, wajahnya pucat seperti orang yang tidak mempunyai harapan hidup.
“Ada apa denganmu
Ella?Apa yang sedang terjadi?” tanyaku lembut agar emosi kami tidak pecah.
“M…mom ” dengan
terpenggal Ella mencoba untuk mengatakan sesuatu.
“And
dadykuakan bercerai!”
Aku
tersentak dan sangat terkejut.Isak tangis yang kami tahan tak terbendungkan
lagi.Aku memeluk erat Ella agar dia merasa tenang dan nyaman.Aku melepaskan
pelukan untuk Ella setelah ku rasa Ella sudah mulai tenang.Dia duduk di atas tempat
tidurnya lemas.
“Ella….”
aku mencoba membuka pembicaraan dengan nada lembut agar tangisnya tidak
terpecah lagi.
“Iya?”
jawabnya lirih
“Aku
ingin kamu jujur dan bercerita tentang semua ini apa yang sebenarnya terjadi?”
Ella
tidak menjawab, dia mencoba mengingat semua apa yang sebenarnya telah terjadi. Beberapa
detik kemudian.“Akhir-akhir ini orang tuaku sering bertengkar.”
“Memang
dulu saat di Surabaya orang tuaku pernah bertengkar kecil namun tidak seperti
malam minggu kemarin.Mungkin malam itu adalah puncak dari segalanya hingga
berujung dengan kata perceraian”lanjut Ella yang hampir menitihkan air mata.
Aku
segera menyeka air mataku yang mulai jatuh. “Lalu, orang tuamu sekarangdimana, La?”
“Mama
lagi ke Surabaya ambil berkas-berkas untuk perceraian. Papa keluar kota selama
seminggu katanya ada tugas kerja.Aku sudah lelah dengan semua ini.Aku harus
selalu mendengar pertengkaran mereka.Dan akhirnya aku memutuskan untuk
mengakhiri hidupku saja.”
“La,
maaf aku tidak selalu berada disampingmu selama 24 jam. Mungkin aku adalah
sahabat yang paling jahat di dunia ini sampai aku tidak tau dengan masalah yang
kamu hadapi saat ini. Dan bukan dengan carabunuh diri kamu menyelesaikan
masalah itu. Malah kamu akan menambah masalah, La. Sekarang kamu berusaha agar
orang tuamu rujuk kembali dan setelah kamu melakukan usaha itu segera serahkan
masalah ini kepada Tuhan. Yakinlah Dia akan menunjukkan jalan keluar yang
terbaik.” kataku mencoba menenangkannya.
“Bukan
kamu yang salah, Mar. Ini salahku.Kamu sudah berusaha menjadi sahabat yang
terbaik. Aku sadar apa yang tadi aku lakukan memang salah besar. Tuhan sangat
membenci hal itu.Aku akan melakukan semua nasihat dan saran darimu Marina.” kata
Ella dengan senyum yang mulai kembali mengembang.
*
* *
Aku sangat senang
mendapat kabar dari Ella, karena orang tuanya tidak jadi bercerai.Mereka
kembali rukun.Dan malam ini Ella mengundangku untuk makan malam bersama di
rumahnya.
Kami semua sangat
menikmati candle light dinner ini. Tante Rheina, mama Ella yang memasak semuanya,
masakannya sangat enak suasana ruang makan Ella disulap menjadi lebih romantic
dan harmonis. Mereka tampak bahagia dengan keadaannya sekarang.
“Marina, terimakasih
kamu sudah menjadi sahabat terbaikku, tempat keluh kesahku, tempat aku berbagi
rasa suka dan duka.Maaf aku banyak merepotkanmu.Dan aku akan selalu berusaha
menjadi sahabat terbaikmu” kata Ella dengan senyum bahagia menghias wajahnya
dan kami saling berpelukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar